MAKALAH
MANAJEMEN
KURIKULUM
Diajukan untuk memenuhi salah satu
tugas
Mata kuliah : Profesi Pendidikan
Dosen : Hj.
Nanan Nuraenih, Dra
Disusun Oleh :
Liling Inka Putri Dian Wardani
4103
212113 1021
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
ISLAM NUSANTARA
BANDUNG
2014
KATA PENGANTAR
Segala
puji dan syukur kami panjatkan atas kehadiran Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan hidayahnya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang
Manajemen Kurikulum.
Tentunya
dalam penulisan ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan baik yang
disengaja maupun yang tidak disengaja. Kami menyadari mungkin makalah ini tidak
sebaik seperti yang diharapkan. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran
yang tentunya bertujuan untuk membangun demi kesempurnaan makalah – makalah
selanjutnya.
Makalah
ini tidak akan sempurna tanpa bantuan dari pihak – pihak tertentu, kami
mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada dosen mata kuliah “PROFESI
KEPENDIDIKAN” yang telah memberikan gambaran dan bimbingannya dalam penulisan
makalah ini. Sehingga memotivasi kami untuk lebih berinisiatif dan memperbaiki
kemungkinan kesalahan yang terdapat dalam penulisan makalah ini.
Semoga
makalah ini tidak hanya dapat bermanfaat bagi kami tetapi juga dapat memberikan
manfaat bagi para pembaca, sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan
lebih untuk bisa diterapkan di dalam lingkungan masyarakat.
Bandung,
5 Maret 2014
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR.............................................................................................................
DAFTAR
ISI............................................................................................................................
BAB
I PENDAHULUAN........................................................................................................
1.1
LATAR BELAKANG..........................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................................
2.1
Pengertian Manajemen Kurikulum.............................................................................
2.2
Ruang Lingkup Manajemen
Kurikulum.....................................................................
2.3
Fungsi Manajemen Kurikulum.....................................................................................
2.4
Prinsip-prinsip Manajemen Kurikulum......................................................................
2.5 Komponen-Komponen Kurikulum...............................................................................
2.6
Ruang Lingkup Manajemen Kurikulum.....................................................................
2.7
Faktor Pendukung dan Penghambat Proses Manajemen Kurikulum.....................
BAB III
PENUTUP..................................................................................................................
KESIMPULAN.........................................................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA................................................................................................................
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kurikulum adalah suatu sistem yang
mempunyai komponen-komponen yang saling berkaitan erat dan menunjang satu sama
lain. Komponen-komponen kurikulum tersebut terdiri dari tujuan, materi
pembelajaran, metode, dan evaluasi. Dalam bentuk sistem ini kurikulum
akan berjalan menuju suatu tujuan pendidikan dengan adanya saling kerja sama
diantara seluruh subsistemnya. Apabila salah satu dari variabel kurikulum tidak
berfungsi dengan baik maka sistem kurikulum akan berjalan kurang baik dan
maksimal.
Berangkat dari bentuk kurikulum tersebut, maka dalam pelaksanaan kurikulum sangat diperlukan suatu pengorganisasian pada seluruh komponennya. Dalam proses pengorganisasian ini akan berhubungan erat dengan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengontrolan. Sedangkan manajemen adalah salah satu displin ilmu yang implikasinya menerapkan proses-proses tersebut. Maka dalam penerapan pelaksanaan kurikulum, seorang yang mengelola lembaga pendidikan harus menguasai ilmu manajemen, baik untuk mengurus pendidikan ataupun kurikulumnya. [1] Oleh karena itu, makalah ini akan membahas tentang pengertian, tujuan, fungsi, prinsip-prinsip, ruang lingkup, proses, dan faktor pendukung serta penghambat manajemen kurikulum, serta hubungan teori pendidikan dan kurikulum.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Manajemen Kurikulum
Manajemen berasal dari bahasa
Inggris ‘management’ dengan kata kerja to manage, diartikan secara umum sebagai
mengurusi atau kemampuan menjalankan dan mengontrol suatu urusan atau “act of
running and controlling a business” (Oxford, 2005).
Sementara, Malayu S.P. Hasibuan
(1995) dalam bukunya “Manajemen Sumber Daya Manusia” mengemukakan bahwa
manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia
dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu.
Kurikulum adalah seperangkat rencana
dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang
digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai
tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan
nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah,
satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh
satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan
kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.
Kurikulum berasal dari bahasa Yunani
yaitu jarak yang harus ditempuh. Secara sempit atau tradisional, kurikulum
adalah sekedar memuat dan dibatasi pada sejumlah mata pelajaran yang diberikan
guru pada siswa guna mendapatkan ijazah. Sedang secara modern, kurikulum adalah
semua pengalaman yang diharapkan dimiliki peserta didik dibawah bimbingan guru
dengan titik berat pada usaha meningkatkan kualitas interaksi belajar-mengajar.
Untuk mendapatkan rumusan tentang
pengertian kurikulum, para ahli mengemukakan pandangan yang beragam. Dalam
pandangan klasik, lebih menekankan kurikulum dipandang sebagai kumpulan
pelajaran di suatu sekolah. Pelajaran-pelajaran dan materi apa yang harus
ditempuh di sekolah, itulah yang disebut kurikulum.
Dalam pandangan modern, pengertian
kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman atau sesuatu yang nyata
terjadi dalam proses pendidikan, seperti dikemukakan oleh Caswel dan Campbell
(1935) yang mengatakan bahwa kurikulum “… to be composed of all the experiences
children have under the guidance of teachers”. Dipertegas lagi oleh pemikiran
Ronald C. Doll (1974) yang mengatakan bahwa “ …the curriculum has changed from
content of courses study and list of subject and courses to all experiences
which are offered to learners under the auspices or direction of school”.
Manajeman kurikulum adalah sebagai
suatu sistem pengelolaan kurikulum yang komperatif, komprehensif, sistemik dan
sistematik dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum. Dalam
pelaksanaannya, manajemen kurikulum harus di kembangkan sesuai dengan konteks
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan
(KTSP). oleh karna itu, otonomi yang di berikan pada lembaga pendidika atau
sekolah dalam mengelola kurikulum secara mandiri dengan memproritaskan
kebutuhan dan ketercapaian saran dan visi dan misi lembaga pendidikan atau
sekolah tidak mengabaikan kebijakan nasional yang telah ditetapkan.
Manajemen kurikulum merupakan
subtansi manajemen yang utama di sekolah. Prinsip dasar manajemen kurikulum ini
adalah berusaha agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, dengan
tolok ukur pencapaian tujuan oleh siswa dan mendorong guru untuk menyusun dan
terus menerus menyempurnakan strategi pembelajarannya.
Manajemen kurikulum adalah segenap
proses usaha bersama untuk memperlancar pencapaian tujuan pengajaran dengan
titik berat pada usaha meningkatkan kualitas interaksi belajar mangajar.
Sedangkan kurikulum sendiri mempunyai arti yang sempit dan arti yang luas.
Kurikulum dalam arti sempit adalah jadwal pelajaran atau semua pelajaran baik
teori maupun praktek yang diberikan kepada siswa selama mengikuti suatu proses
pendidikan tertentu.
Manajemen
kurikulum adalah segenap proses usaha bersama untuk memperlancar pencapaian
tujuan pengajaran dengan titik berat pada usaha meningkatkan kualitas interaksi
belajar mangajar. Sedangkan kurikulum sendiri mempunyai arti yang sempit dan
arti yang luas. Kurikulum dalam arti sempit adalah jadwal pelajaran atau semua
pelajaran baik teori maupun praktek yang diberikan kepada siswa selama
mengikuti suatu proses pendidikan tertentu. Sedangkan dalam arti luas kurikulum
diartikan sebagai berikut. Sebenarnya terdapat tiga jenis organisasi kurikulum
yaitu:
- Kurikulum Terpisah (Sparated Subject Curriculum) di mana bahan pelajaran disajikan secara terpisah – pisah seolah – olah ada batas antara bidang studi dan antara bidang studi yang sama di kelas ya ng berbeda.
- Kurikulum Berhubungan (Correlated Curriculum) yaitu kurikulum yang menunjukan adanya hubungan antara mata pelajarah yang satu dengan yan lain. Seperti IPS (gabungan dari mata pelajaran Sejarah Geografi, Ekonomi, Sosiologi ), IPA (gabungan dari Fisika, Biologi, Kimia).
- Kurikulum terpadu (Integrated Curriculum) yaitu kurikulum yang meniadakan batas – batas antara berbagai bidang dan didalam mata pelajaran tersebut terdapat keterpaduan mata pelajaran serta menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk unik.
2.2 Ruang Lingkup Manajemen Kurikulum
Ruang
lingkup manajemen kurikulum mengikuti perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian
kegiatan kurikulum. Pada tingkat sekolah kegiatan kurikulum lebih mengutamakan
untuk merealisasikan dan merelefansikan anatara kurikulum nasional (standar
kompetensi / kopetensi dasar ) dengan kebutuhan daerah dan kondisi sekolah yang
bersangkutan sehingga kurikulum tersebut merupakan kurikulum yang integratis
dengan peserta didik maupun dengan lingkungan.
2.3 Fungsi
Manajemen Kurikulum
Dikemukakan di atas bahwa manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan.
Kegiatan dimaksud tak lain adalah tindakan-tindakan yang mengacu kepada
fungsi-fungsi manajamen. Berkenaan dengan fungsi-fungsi manajemen ini, H.
Siagian (1977) mengungkapkan pandangan dari beberapa ahli, sebagai berikut:
Menurut G.R. Terry terdapat empat fungsi manajemen
kurikulum, yaitu :
1. Perencanaan
(planning).
2. Pengorganisasian
(organizing).
3. Pelaksanaan
(actuating).
4. Pengawasan
(controlling).
Untuk
memahami lebih jauh tentang fungsi-fungsi manajemen pendidikan, di bawah akan dipaparkan tentang
fungsi-fungsi manajemen pendidikan dalam perspektif persekolahan, dengan
merujuk kepada pemikiran G.R. Terry, meliputi :
1.
Perencanaan (planning)
Perencanaan
(planning) adalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan penentuan
strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran
dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.
Arti penting
perencanaan terutama adalah memberikan kejelasan arah bagi setiap kegiatan,
sehingga setiap kegiatan dapat diusahakan dan dilaksanakan seefisien dan
seefektif mungkin. T. Hani Handoko mengemukakan sembilan manfaat perencanaan
bahwa perencanaan:
a. Membantu
manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan
b.
Membantu
dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah utama
c.
Memungkinkan
manajer memahami keseluruhan gambaran
d.
Membantu
penempatan tanggung jawab lebih tepat
e.
Memberikan
cara pemberian perintah untuk beroperasi
f.
Memudahkan
dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi
g.
Membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami
h.
Meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti
i.
Menghemat waktu, usaha dan dana
2.
Pengorganisasian (organizing)
Fungsi
manajemen berikutnya adalah pengorganisasian (organizing). George R.
Terry (1986) mengemukakan bahwa : “Pengorganisasian adalah tindakan
mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang,
sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien, dan memperoleh kepuasan
pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu, dalam kondisi lingkungan
tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu”
Dari pendapat diatas dapat
dipahami bahwa pengorganisasian pada dasarnya merupakan upaya untuk melengkapi
rencana-rencana yang telah dibuat dengan susunan organisasi pelaksananya. Hal
yang penting untuk diperhatikan dalam pengorganisasian adalah bahwa setiap
kegiatan harus jelas siapa yang mengerjakan, kapan dikerjakan, dan apa
targetnya.
Berkenaan dengan pengorganisasian ini,
Berkenaan dengan pengorganisasian ini,
Hadari
Nawawi (1992) mengemukakan beberapa asas dalam organisasi, diantaranya adalah :
a. Organisasi harus profesional, yaitu dengan pembagian
satuan kerja yang sesuai dengan kebutuhan
b.
Pengelompokan satuan kerja harus menggambarkan pembagian kerja
c.
Organisasi harus mengatur pelimpahan wewenang dan tanggung jawab
d.
Organisasi harus mencerminkan rentangan control
e.
Organisasi harus mengandung kesatuan perintah
f. Organisasi
harus fleksibel dan seimbang.
3.
Pelaksanaan (actuating)
Dari seluruh
rangkaian proses manajemen, pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen
yang paling utama. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak
berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen, sedangkan fungsi
actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung
dengan orang-orang dalam organisasi
Dalam hal
ini, George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa actuating merupakan usaha
menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka
berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran
anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin
mencapai sasaran-sasaran tersebut.
Dari
pengertian di atas, pelaksanaan (actuating) tidak lain merupakan upaya untuk
menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan
dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara
optimal sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya.
Hal yang
penting untuk diperhatikan dalam pelaksanan (actuating) ini adalah bahwa
seorang karyawan akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu jika :
a. Merasa yakin
akan mampu mengerjakan,
b. Yakin bahwa
pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi dirinya,
c. Tidak sedang
dibebani oleh problem pribadi atau tugas lain yang lebih penting, atau
mendesak,
d. tugas
tersebut merupakan kepercayaan bagi yang bersangkutan
e. Hubungan
antar teman dalam organisasi tersebut harmonis.
4.
Pengawasan (controlling)
Pengawasan
(controlling) merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu
organisasi. Semua fungsi terdahulu, tidak akan efektif tanpa disertai fungsi
pengawasan.
Dalam
perspektif persekolahan, agar tujuan pendidikan di sekolah dapat tercapai
secara efektif dan efisien, maka proses manajemen pendidikan memiliki peranan
yang amat vital. Karena bagaimana pun sekolah merupakan suatu sistem yang di
dalamnya melibatkan berbagai komponen dan sejumlah kegiatan yang perlu dikelola
secara baik dan tertib. Sekolah tanpa didukung proses manajemen yang baik,
boleh jadi hanya akan menghasilkan kesemrawutan lajunya organisasi, yang pada
gilirannya tujuan pendidikan pun tidak akan pernah tercapai secara semestinya.
Dengan
demikian, setiap kegiatan pendidikan di sekolah harus memiliki perencanaan yang
jelas dan realisitis, pengorganisasian yang efektif dan efisien, pengerahan dan
pemotivasian seluruh personil sekolah untuk selalu dapat meningkatkan kualitas
kinerjanya, dan pengawasan secara berkelanjutan.
Menurut sumber lain, fungsi-fungsi
dari manajemen adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan efisiensi pemanfaatan
sumberdaya kurikulum, karena pemberdayaan sumber dan komponen kurikulum dapat
dilakukan dengan pengelolaan yang terencana.
2. Meningkatkan keadilan dan kesempatan
bagi peserta didik untuk mencapai hasil yang maksimal melalui rangkaian
kegiatan pendidikan yang dikelola secara integritas dalam mencapai tujuan.
3. Meningkatkan motivasi pada kinerja
guru dan aktifitas siswa karena adanya dukungan positif yang diciptakan dalam
kegiatan pengelolaan kurikulum.
4. Meningkatkan pastisipasi masyarakat
untuk membantu pengembangan kurikulum, kurikulum yang dikelola secara
profesional akan melibatkan masyarakat dalam memberi masukan supaya dalam
sumber belajar disesuaikan dengan kebutuhan setempat. [1]
2.4
Prinsip-prinsip Manajemen Kurikulum
Prinsip yang harus diperhatikan
dalam melaksanakan manajemen kurikulum adalah sebagai berikut:
1. Produktivitas
Hasil yang akan diperoleh dalam
kegiatan kurikulum merupakan aspek yang harus dipertimbangkan dalam manajemen
kurikilum. Pertimbangan bagaimana agar peserta didik dapat mencapai hasil
belajar sesuai dengan tujuan kurikulum harus menjadi sasaran dalam manajemen
kurikulum.
2. Demokratisasi
Pelaksanaan manajemen kurikulum
harus berasaskan pada demokrasi yang menempatkan pengelola, pelaksana, dan
subjek didik pada posisi yang seharusnya dalam melaksanakan tugas dengan penuh
tanggungjawab untuk mencapai tujuan kurikulum.
3. Kooperatif
Untuk memperoleh hasil yang
diharapkan dalam kegiatan manajemen kurikulum perlu adanya kerjasama yang
positif dari berbagai pihak yang terlibat.
4. Efektifititas dan efisiensi
Rangkaian kegiatan manajemen
kurikulum harus mempertimbangkan efektifititas dan efisiensi untuk mencapai
tujuan kurikulum, sehingga kegiatan manajemen kurikulum tersebut memberikan
hasil yang berguna dengan biaya, tenaga, dan waktu yang relative singkat.
5. Mengarahkan visi, misi, dan tujuan
yang ditetapkan dalam kurikulum
Proses manajemen kurikulum harus
dapat memperkuat dan mengarahkan visi, misi, dan tujuan kurikulum. Dalam proses
pendidikan perlu dilaksanakan manajemen kurikulum untuk memberikan hasil
kurikulum yang lebih efektif, efisien, dan optimal dalam memberdayakan berbagai
sumber daya maupun komponen kurikulum.
2.5 Komponen-Komponen Kurikulum
Kurikulum
merupakan suatu sistem yang memiliki komponen-komponen tertentu . komponen-komponen
kurikulum dapat di lihat dalam bagan di bawah ini.
|
TUJUAN
|
|
EVALUASI
|
|
METODE
|
|
ISI
|
Bagan
tersebut menggambarkan bahwa sistem kurikulum terbentuk oleh empat
komponen-komponen, yaitu komponen tujuan, isi kurikulum, metode atan strategi
pencapaian tujuan dan komponen evaluasi.
1. Komponen tujuan
Kompponen tujuan berhubungan
dengan arah atau hasil yang ingin di harapkan, rumusan tujuan menggambarkan
suatu masyarakat yang di cita citakan misalkan, filsafat atau sistem nilai yang
di anut masyarakat indonesia adalah pancasila,
maka tujuan yang di harapkan tercapai oleh suatu kurikulum adalah
membentuk masyarakat yang pacasilais . tujuan pendidikan mempunyai klasifikasi,
dari tujuan yang sangat umum sampai tujuan khusus yang bersipat spesifik dan
dapat diukur yang kemudian dinamakan kompetensi. Tujuan pendidikan di
klasifikasikan menjadi empat yaitu:
-
Tujuan
pendidikan nasional (TPN)
-
Tujuan
istitusional (TI)
-
Tujuan
kurikuler (TK)
-
Tujuan
instruksional atau tujuan pembelajaran (TP).
2. Komponen isi/materi pembelajaran
Pada komponen isi kurikulum lebih
banyak menitik beratkan pada pengalaman belajar yang harus dimiliki pada
perserta didik dalam kegiatan proses pembelajaran. Isi kurikulum hendaknya
memulat semua aspek yang berhubungan dengan aspek kognitif (pengetahuan),
afektif (sikap atau perilaku ), dan psikomotorik (keterampilan atau skill) yang
terdapat pada isi setiap mata pelajaran yang di sampaikan dalam kegiatan proses
pembelajaran di arahkan untuk mencapai tujuan dari semua aspek tersebut
3. Komponen Metode
Komponen metode berkaitan dengan
strategi yang harus di lakukan dalam rangka pencapaian tujuan. Metode yang tepat
adalah metode yang sesuai dengan materi dan tujuan kurikulum yang akan di capai
dalam setiap pokok pembahasan dalam posisi ini guru hendaknya tidak menerapkan
satu metode saja, tetapi guru dapat menerepkan berbagai metode agar proses
pembelajaran berlangsung dengan menyenangkan dan mencapai sasaran yang di
rencanakan dengan demikian rencana sudah disusun dapat diterapkan secara
optimal.
4. Komponen evaluasi
Evaluasi merupakan bagian yang
tidak dapat di pisahkan dari pengembangan kurikulum itu sendiri melalui
evaluasi, dapat di tentukan nilai dan arti kurikulum sehingga dapat di jadikan
bahan pertimbangan apakah suatu kurikulum dapat dipertahankan atau tidak.
2.6
Ruang Lingkup Manajemen Kurikulum
Manajemen kurikulum adalah bagian
dari studi kurikulum. Para ahli pendidikan pada umumnya telah mengenal bahwa
kurikulum suatu cabang dari disiplin ilmu pendidikan yang mempunyai ruang
lingkup sagat luas. Studi ini tidak hanya membahas tentang dasar-dasarnya,
tetapi juga mempelajari kurikulum secara keseluruhan yang dilaksanakan dalam
pendidikan.
Secara sederhana dan lebih mudah
dipelajari secara mendalam, maka ruang lingkup manajemen kurikulum adalah
sebagai berikut:
a. Manajemen perencanaan,
b. Manajemen pelaksanaan kurikulum,
c. Supervisi pelaksanaan kurikulum,
d. Pemantauan dan penilaian kurikulum,
e. Perbaikan kurikulum,
f. Desentralisasi dan sentralisasi
pengembangan kurikulum.
2.7
Faktor Pendukung dan Penghambat Proses Manajemen Kurikulum
Dalam
kurikulum terdapat sejumlah hal yang mendukung terhadap proses menejemen
kurikulum, antara lain dapat dikemumakan dibawah ini :
1. Faktor
peserta didik dalam pengembangan kurikulum karena kurikulum dikembangkan dan
didesin sesuai dengan kebutuhan dan minat peserta didik, maka pola yang
digunakan berpusat pada bahan ajar berupa isi atau materi yang akan diajarkan
kepada peserta didik.
2. Faktor
sosial budaya dalam manajemen kurikulum karena kurikulum disesuaikan dengan
tuntunan dan tekanan serta kebutuhan masyarakat yang berbeda-beda.
3. Faktor
politik dalam manajemen kurikulum merupakan hal yang berpengaruh karena politik
yang melandasi arah kebijakan dari pengembangan kurikulum itu sendiri.
4. Faktor
ekonomi dalam manajemen kurikulum merupakan hal yang memiliki pengaruh yang
cukup besar karena faktor ekonomi yang dapat mengembangkan sekaligus mendorong
pola pengembangan kurikulum mulai dari tingkat atas sampai tingkat bawah, mulai
dari pelaku kebijakan sampai pada pelaku di lapangan ( di sekolah-sekolah
).
5. Faktor
perkembangan teknologi dalam manajemen kurikulum karena perkembangan teknologi
menjadi salah satu faktor pendukung dalam pengembangan kurikulum disebabkan
pola fakir masyarakatpun yang semakin komplek dalam perkembangan teknologi
sehingga dituntut untuk dapat melihat dan menyesuiakan dengan
perubahan-perubahan yang terjadi didalam masyarakat.
Pendidikan
di Indonesia di arahkan untuk menciptakan suatu individu atau masyarakat yang
memiliki sikap kemandirian sehingga tertanam sebuah keterampilan dan
pengetahuan yang baik yang dapat menunjang kehidupan dirinya sendiri maupun
orang disekitarnya. Tetapi pada kenyataannya di lapangan pendidikan di
Indonesia kurang terpola dengan baik dan kurang jelas arah tujuannya, hal
tersebut terkait erat dengan hambatan-hambatan yang terjadi pada manajemen
kurikulum itu sendiri, hal itu dapat dilihat dari :
1. Ketidaksinambungan
dan ke tidak sinergian antara pendidik yang ada di lapangan dengan pendidik
yang memberikan kebijakan di atasnya.
2. Keterbatasan
akan sarana dan prasarana.
3. Lemahnya
pengawasan guru di lapangan yang menyebabkan tingkat kedisiplinan cukup rendah.
4. Kualifikasi
pendidikan guru yang tidak sesuai dengan bidangnya, yang berujung pada tingkat
profesionalisme guru dalam kegiatan pembelajaran atau penyampaian materi
pelajaran.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1. Manajeman kurikulum adalah sebagai suatu sistem
pengelolaan kurikulum yang komperatif, komprehensif, sistemik dan sistematik
dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum.
2. Manajemen
kurikulum dan pembelajaran bertujuan untuk:
a. Pencapaian pengajaran dengan menitik beratkan pada
peningkatan kualitas interaksi belajar mengajar.
b. Mengembangkan
sumber daya manusia dengaan mengacu pada pendayagunaan seoptimal
mungkin.
c. Pencapaian visi dan misi
pendidikan nasional.
d. Meningkatkan kualitas belajar mengajar
disuatu pendidikan tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
http://kiswankurikulum.blogspot.com/.
Manajemen
Kurikulum. 16 Mei 2013:16.35.
http://sumberbelajarangga.wordpress.com/2012/12/10/makalah-manajemen-kurikulum-dan-pembelajaran/. Manajemen Kurikulum. 16 Mei
2013:16.52.
http://syahdansejarah.blogspot.com/2012/04/manajemen-kurikulum.html. Manajemen Kurikulum. 16 Mei
2013:17.10.
BAB
8 Manajemen Implementasi Kurikulum oleh Dr. Asep Sudarsyah M.Pd.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar